Bab 3: Mempertahankan Kejujuran sebagai Cermin Kepribadian

Definisi Jujur

Jujur (aś-śidqu) adalah mengatakan sesuatu sesuai dengan kenyataan, sedangkan dusta (al-każ ibu) adalah mengatakan sesuatu tidak sesuai dengan kenyataan.

Pembagian Sifat Jujur

  • Jujur dalam niat atau berkehendak, yaitu tiada dorongan bagi seseorang dalam segala tindakan dan gerakannya selain dorongan karena Allah SWT
  • Jujur dalam perkataan (lisan), yaitu sesuainya berita yang diterima dengan yang disampaikan. Setiap orang harus dapat memelihara perkataannya. Ia tidak berkata kecuali dengan jujur.
  • Jujur dalam perbuatan/amaliah, yaitu beramal dengan sungguh-sungguh sehingga perbuatan żahirnya tidak menunjukkan sesuatu yang ada dalam batinya dan menjadi tabiat bagi dirinya.

Ayat-Ayat Al-Qur’an  Tentang Perintah Berlaku Jujur

  • Al-Māidah/5:8. Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada orang mukmin agar melaksanakan amal dan pekerjaan mereka dengan cermat, jujur, dan ikhlas karena Allah SWT Baik pekerjaan tersebut yang berhubungan dengan urusan agama maupun pekerjaan yang berhubungan dengan urusan kehidupan dunia. Karena hanya dengan demikianlah mereka dapat sukses dan memperoleh hasil balasan yang mereka harapkan.
  • At-Taubah/9:119. Dalam ayat ini, Allah SWT menunjukkan seruan-Nya dan memberikanbimbingan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya dan Rasul-Nya. Mereka diharapkan tetap dalam ketakwaan dengan cara menunaikan segala kewajiban yang telah ditetapkan-Nya, dan menjauhi segala larangan yang telah ditentukan-Nya. Kemudian Allah memerintahkan hendaklah senantisa bersama orang-orang yang benar dan jujur dengan mengikut ketakwaan, kebenaran dan kejujuran mereka.

Hikmah Jujur

Kejujuran akan menciptakan ketenangan, kedamaian, keselamatan, kesejahteraan, dan kenikmatan lahir dan batni baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sementara, kedustaan menimbulkan kegoncangan, kegelisahan,  konflk sosial, kekacauan, kehinaan, dan kesengsaraan lahir dan bati baik di dunia apalagi di akhirat.

Pengecualian Jujur

Seseorang boleh berdusta dalam beberapa hal.Diperbolehkan dusta hanya untuk tiga hal saja, yaitu Pertama ketika seorang istri memuji suaminya atau sebaliknya. Kedua Ketika seseorang yang akan mencelakai orang yang tidak bersalah dengan mengatakan bahwa orang yang dicari tidak ada. Ketiga ucapan dusta untuk mendamaikan dua orang yang sedang bertikai agar damai dan rukun kembali.

Back to top button